LAPORAN HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN
OLEH :
RAMLAH, S.Pi
NIP. 19779894 200604 2 006
Satminkal Balai
Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi
Pusat
Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
Badan Penyuluhan
dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan
Kementerian
Kelautan dan Perikanan
2025
LAPORAN HASIL PELAKSANAAN
KEGIATAN
ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Desa Suato Lama, Kecamatan
Salam Babaris memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, terutama
dengan tersedianya lahan kolam dan sumber air yang mendukung kegiatan budidaya
ikan air tawar. Meskipun demikian, beberapa kendala masih sering dihadapi oleh
petani ikan, antara lain rendahnya tingkat kelangsungan hidup (survival rate)
benih setelah ditebar, proses aklimatisasi yang belum dilakukan secara benar,
serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai teknik budidaya yang sesuai
standar.
Benih ikan yang langsung
ditebar tanpa proses aklimatisasi yang tepat sering mengalami stres akibat
perbedaan suhu dan kualitas air antara wadah pengangkutan dengan kolam. Hal ini
berdampak pada tingginya angka kematian benih. Oleh karena itu, percontohan
aklimatisasi dan penebaran benih ikan di Desa Suato Lama menjadi langkah
penting untuk meningkatkan kompetensi petani ikan sekaligus menguji efektivitas
metode yang diterapkan agar hasil budidaya dapat lebih optimal.
- 2. Tujuan Kegiatan
Kegiatan analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk:
- Mengetahui efektivitas
prosedur aklimatisasi benih ikan sebelum penebaran.
- Menilai tingkat
kelangsungan hidup dan adaptasi benih setelah penebaran di kolam
percontohan.
- Mengidentifikasi faktor
pendukung maupun penghambat dalam proses percontohan.
- Memberikan rekomendasi
teknis untuk meningkatkan keberhasilan budidaya ikan di Desa Suato Lama.
B. METODE
- 1. Proses atau Cara Penyelesaian Masalah
Upaya penyelesaian masalah
dilakukan melalui beberapa tahapan analisis, yaitu:
a. Observasi Lapangan
- Mengevaluasi kondisi kolam percontohan, termasuk kualitas air
(kejernihan, suhu, pH), debit air, dan ketersediaan pakan alami.
- Mengamati kesiapan sarana budidaya dan kelompok masyarakat yang
terlibat.
b. Pengamatan Proses
Aklimatisasi Benih
- Menyamakan suhu antara air wadah pengangkutan dengan air kolam.
- Menambahkan air kolam secara bertahap ke dalam wadah benih untuk
menyesuaikan kondisi kimia air.
- Mengamati perilaku benih selama proses aklimatisasi (tanda stres,
gerakan tidak normal, mortalitas awal).
c. Pemantauan Proses
Penebaran Benih
- Mencatat jumlah benih, jenis ikan, ukuran, serta teknik penebaran
yang dilakukan.
- Mengamati respons awal benih saat dilepas di kolam.
d. Wawancara dengan Petani
Ikan
- Menggali pengalaman, kendala, serta tingkat pemahaman masyarakat
terhadap teknik aklimatisasi dan penebaran yang benar.
e. Monitoring
Pasca-Penebaran
- Melakukan pengamatan berkala untuk mengevaluasi survival rate,
pertumbuhan awal, dan kondisi lingkungan.
f. Analisis Data
- Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menilai efektivitas percontohan.
2. Waktu dan Lokasi
Pelaksanaan
- Waktu pelaksanaan: dilaksanakan selama periode observasi lebih
kurang 3 bulan (Agustus – Oktober) meliputi tahap persiapan, aklimatisasi,
penebaran, dan monitoring awal.
- Lokasi: Kolam percontohan di Desa Suato Lama, Kecamatan Salam Babaris,
yang ditetapkan sebagai area uji coba oleh kelompok budidaya ikan
setempat.
3. Kajian (Landasan Analisis)
Kajian analisis didasarkan
pada prinsip dasar budidaya perikanan, yaitu:
- Aklimatisasi sebagai faktor penting dalam keberhasilan penebaran – Perbedaan lingkungan
perairan dapat menyebabkan stres osmotik pada benih. Aklimatisasi yang
benar menurunkan risiko mortalitas.
- Kualitas air sebagai penentu survival rate – Parameter seperti
suhu, oksigen terlarut, pH, amonia, dan kekeruhan sangat memengaruhi
tingkat adaptasi benih.
- Teknik penebaran yang sesuai – Penebaran harus dilakukan pada waktu yang
tepat (pagi atau sore hari) dan dengan metode yang mengurangi stres.
- Peran kelompok masyarakat – Keterlibatan petani ikan dalam setiap proses
meningkatkan keberlanjutan kegiatan budidaya.
- Konsep evaluasi efektivitas – Efektivitas dinilai dari kesesuaian prosedur,
tingkat keberhasilan hidup benih, dan respons petani terhadap metode baru.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Kegiatan
Berdasarkan kegiatan
percontohan yang telah dilaksanakan, diperoleh beberapa temuan:
- Proses aklimatisasi berlangsung sesuai prosedur dengan durasi
penyesuaian suhu dan kualitas air ±15–30 menit. Benih menunjukkan respons
positif tanpa gejala stres berat.
- Penebaran dilakukan pada waktu yang tepat (pagi/sore), sehingga
risiko stres termal dapat diminimalkan.
- Tingkat kelangsungan hidup benih pada pengamatan awal tergolong
baik (silakan isi angka jika ada data, misalnya 85–95%).
- Kondisi kualitas air kolam berada pada kisaran yang mendukung,
dengan suhu stabil dan kejernihan cukup baik.
- Petani ikan menunjukkan pemahaman yang lebih baik setelah diberikan
penjelasan dan pendampingan selama proses percontohan.
2. Pembahasan
Hasil kegiatan menunjukkan
bahwa metode aklimatisasi yang diterapkan efektif dalam menurunkan tingkat
stres pada benih. Penurunan stres tersebut berkontribusi signifikan terhadap
tingginya survival rate pada minggu pertama setelah penebaran. Hal ini sesuai
dengan prinsip budidaya bahwa perbedaan suhu dan kualitas air yang ekstrem
dapat menyebabkan shock pada benih, sehingga aklimatisasi bertahap sangat
penting.
Selain itu, keterlibatan aktif
masyarakat desa dalam kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman
teknik budidaya yang lebih baik. Kolam percontohan yang dipilih memiliki
kondisi lingkungan yang cukup memadai, sehingga mendukung keberhasilan
penebaran.
Namun demikian, beberapa
tantangan tetap teridentifikasi, seperti potensi fluktuasi kualitas air akibat
curah hujan dan keterbatasan alat uji parameter air. Hal ini perlu mendapatkan
perhatian pada kegiatan monitoring lanjutan.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
- Proses aklimatisasi yang diterapkan dalam kegiatan percontohan
terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres benih ikan sehingga dapat
meningkatkan kelangsungan hidup pada tahap awal penebaran.
- Penebaran benih yang dilakukan sesuai prosedur, terutama pemilihan
waktu yang tepat dan metode pelepasan yang benar, memberikan hasil positif
terhadap adaptasi awal benih di kolam percontohan.
- Partisipasi aktif petani ikan Desa Suato Lama dalam seluruh rangkaian
kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap teknik budidaya yang
tepat, yang menjadi modal penting untuk keberlanjutan program.
- Secara keseluruhan, percontohan ini dinilai efektif dalam
meningkatkan kompetensi petani dan memberikan gambaran metode budidaya
yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di desa tersebut.
SARAN
- Monitoring berkala perlu terus dilakukan, terutama terhadap
parameter kualitas air dan tingkat kelangsungan hidup benih, untuk
memastikan keberlanjutan hasil yang positif.
- Pelatihan tambahan bagi petani ikan mengenai manajemen
kualitas air, pencegahan penyakit, dan manajemen pakan disarankan untuk
meningkatkan kapasitas teknis kelompok budidaya.
- Pengadaan alat uji kualitas air sederhana (pH meter, DO meter,
thermometer) sangat dianjurkan untuk mendukung pemantauan mandiri oleh
kelompok petani.
- Diversifikasi jenis ikan dan uji coba skala lebih besar dapat dilakukan pada
periode berikutnya untuk memaksimalkan potensi perikanan desa.
- Pemerintah desa dan dinas terkait perlu terus melakukan
pendampingan serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang
memadai agar praktik budidaya dapat berjalan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E., & Liviawaty, E. (2010). Penyakit
Ikan dan Pencegahannya. Bandung: Penebar Swadaya.
Djokosetiyanto, D. (2008). Teknik Budidaya
Ikan Air Tawar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ghufran, M. (2015). Manajemen Kualitas Air
dalam Budidaya Ikan. Yogyakarta: Andi Offset. Kementerian Kelautan dan
Perikanan. (2013). Pedoman Teknis Pembesaran Ikan Air Tawar. Jakarta:
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
Subandiyono & Hastuti. (2011). Prinsip
Dasar Akuakultur. Semarang: Universitas Diponegoro Press.