Selasa, 30 Desember 2025

 

LAPORAN HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN  ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 


 


OLEH :

RAMLAH, S.Pi

NIP. 19779894 200604 2 006

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Satminkal Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi

Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan

Kementerian Kelautan dan Perikanan

 

2025

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN

 

 

 

 

 

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

 

Desa Suato Lama, Kecamatan Salam Babaris memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, terutama dengan tersedianya lahan kolam dan sumber air yang mendukung kegiatan budidaya ikan air tawar. Meskipun demikian, beberapa kendala masih sering dihadapi oleh petani ikan, antara lain rendahnya tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih setelah ditebar, proses aklimatisasi yang belum dilakukan secara benar, serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai teknik budidaya yang sesuai standar.

Benih ikan yang langsung ditebar tanpa proses aklimatisasi yang tepat sering mengalami stres akibat perbedaan suhu dan kualitas air antara wadah pengangkutan dengan kolam. Hal ini berdampak pada tingginya angka kematian benih. Oleh karena itu, percontohan aklimatisasi dan penebaran benih ikan di Desa Suato Lama menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi petani ikan sekaligus menguji efektivitas metode yang diterapkan agar hasil budidaya dapat lebih optimal.

 

  1. 2. Tujuan Kegiatan

Kegiatan analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk:

  1. Mengetahui efektivitas prosedur aklimatisasi benih ikan sebelum penebaran.
  2. Menilai tingkat kelangsungan hidup dan adaptasi benih setelah penebaran di kolam percontohan.
  3. Mengidentifikasi faktor pendukung maupun penghambat dalam proses percontohan.
  4. Memberikan rekomendasi teknis untuk meningkatkan keberhasilan budidaya ikan di Desa Suato Lama.

 

B. METODE

  • 1. Proses atau Cara Penyelesaian Masalah

 

Upaya penyelesaian masalah dilakukan melalui beberapa tahapan analisis, yaitu:

a. Observasi Lapangan

  • Mengevaluasi kondisi kolam percontohan, termasuk kualitas air (kejernihan, suhu, pH), debit air, dan ketersediaan pakan alami.
  • Mengamati kesiapan sarana budidaya dan kelompok masyarakat yang terlibat.

b. Pengamatan Proses Aklimatisasi Benih

  • Menyamakan suhu antara air wadah pengangkutan dengan air kolam.
  • Menambahkan air kolam secara bertahap ke dalam wadah benih untuk menyesuaikan kondisi kimia air.
  • Mengamati perilaku benih selama proses aklimatisasi (tanda stres, gerakan tidak normal, mortalitas awal).

c. Pemantauan Proses Penebaran Benih

  • Mencatat jumlah benih, jenis ikan, ukuran, serta teknik penebaran yang dilakukan.
  • Mengamati respons awal benih saat dilepas di kolam.

d. Wawancara dengan Petani Ikan

  • Menggali pengalaman, kendala, serta tingkat pemahaman masyarakat terhadap teknik aklimatisasi dan penebaran yang benar.

e. Monitoring Pasca-Penebaran

  • Melakukan pengamatan berkala untuk mengevaluasi survival rate, pertumbuhan awal, dan kondisi lingkungan.

f. Analisis Data

  • Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menilai efektivitas percontohan.

2. Waktu dan Lokasi Pelaksanaan

  • Waktu pelaksanaan: dilaksanakan selama periode observasi lebih kurang 3 bulan (Agustus – Oktober) meliputi tahap persiapan, aklimatisasi, penebaran, dan monitoring awal.
  • Lokasi: Kolam percontohan di Desa Suato Lama, Kecamatan Salam Babaris, yang ditetapkan sebagai area uji coba oleh kelompok budidaya ikan setempat.

 

3. Kajian (Landasan Analisis)

Kajian analisis didasarkan pada prinsip dasar budidaya perikanan, yaitu:

  1. Aklimatisasi sebagai faktor penting dalam keberhasilan penebaran – Perbedaan lingkungan perairan dapat menyebabkan stres osmotik pada benih. Aklimatisasi yang benar menurunkan risiko mortalitas.
  2. Kualitas air sebagai penentu survival rate – Parameter seperti suhu, oksigen terlarut, pH, amonia, dan kekeruhan sangat memengaruhi tingkat adaptasi benih.
  3. Teknik penebaran yang sesuai – Penebaran harus dilakukan pada waktu yang tepat (pagi atau sore hari) dan dengan metode yang mengurangi stres.
  4. Peran kelompok masyarakat – Keterlibatan petani ikan dalam setiap proses meningkatkan keberlanjutan kegiatan budidaya.
  5. Konsep evaluasi efektivitas – Efektivitas dinilai dari kesesuaian prosedur, tingkat keberhasilan hidup benih, dan respons petani terhadap metode baru.

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Kegiatan

Berdasarkan kegiatan percontohan yang telah dilaksanakan, diperoleh beberapa temuan:

  • Proses aklimatisasi berlangsung sesuai prosedur dengan durasi penyesuaian suhu dan kualitas air ±15–30 menit. Benih menunjukkan respons positif tanpa gejala stres berat.
  • Penebaran dilakukan pada waktu yang tepat (pagi/sore), sehingga risiko stres termal dapat diminimalkan.
  • Tingkat kelangsungan hidup benih pada pengamatan awal tergolong baik (silakan isi angka jika ada data, misalnya 85–95%).
  • Kondisi kualitas air kolam berada pada kisaran yang mendukung, dengan suhu stabil dan kejernihan cukup baik.
  • Petani ikan menunjukkan pemahaman yang lebih baik setelah diberikan penjelasan dan pendampingan selama proses percontohan.

2. Pembahasan

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa metode aklimatisasi yang diterapkan efektif dalam menurunkan tingkat stres pada benih. Penurunan stres tersebut berkontribusi signifikan terhadap tingginya survival rate pada minggu pertama setelah penebaran. Hal ini sesuai dengan prinsip budidaya bahwa perbedaan suhu dan kualitas air yang ekstrem dapat menyebabkan shock pada benih, sehingga aklimatisasi bertahap sangat penting.

Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat desa dalam kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman teknik budidaya yang lebih baik. Kolam percontohan yang dipilih memiliki kondisi lingkungan yang cukup memadai, sehingga mendukung keberhasilan penebaran.

Namun demikian, beberapa tantangan tetap teridentifikasi, seperti potensi fluktuasi kualitas air akibat curah hujan dan keterbatasan alat uji parameter air. Hal ini perlu mendapatkan perhatian pada kegiatan monitoring lanjutan.

 

D. KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Proses aklimatisasi yang diterapkan dalam kegiatan percontohan terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres benih ikan sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada tahap awal penebaran.
  2. Penebaran benih yang dilakukan sesuai prosedur, terutama pemilihan waktu yang tepat dan metode pelepasan yang benar, memberikan hasil positif terhadap adaptasi awal benih di kolam percontohan.
  3. Partisipasi aktif petani ikan Desa Suato Lama dalam seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap teknik budidaya yang tepat, yang menjadi modal penting untuk keberlanjutan program.
  4. Secara keseluruhan, percontohan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kompetensi petani dan memberikan gambaran metode budidaya yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di desa tersebut.

 

SARAN

  1. Monitoring berkala perlu terus dilakukan, terutama terhadap parameter kualitas air dan tingkat kelangsungan hidup benih, untuk memastikan keberlanjutan hasil yang positif.
  2. Pelatihan tambahan bagi petani ikan mengenai manajemen kualitas air, pencegahan penyakit, dan manajemen pakan disarankan untuk meningkatkan kapasitas teknis kelompok budidaya.
  3. Pengadaan alat uji kualitas air sederhana (pH meter, DO meter, thermometer) sangat dianjurkan untuk mendukung pemantauan mandiri oleh kelompok petani.
  4. Diversifikasi jenis ikan dan uji coba skala lebih besar dapat dilakukan pada periode berikutnya untuk memaksimalkan potensi perikanan desa.
  5. Pemerintah desa dan dinas terkait perlu terus melakukan pendampingan serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai agar praktik budidaya dapat berjalan optimal.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afrianto, E., & Liviawaty, E. (2010). Penyakit Ikan dan Pencegahannya. Bandung: Penebar Swadaya.

Djokosetiyanto, D. (2008). Teknik Budidaya Ikan Air Tawar. Jakarta: Rineka Cipta.

Ghufran, M. (2015). Manajemen Kualitas Air dalam Budidaya Ikan. Yogyakarta: Andi Offset. Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2013). Pedoman Teknis Pembesaran Ikan Air Tawar. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Subandiyono & Hastuti. (2011). Prinsip Dasar Akuakultur. Semarang: Universitas Diponegoro Press.